Furqan

Malam ini saya ‘menculik’ Furqan. Ajakan mainstream : makan, tapi tetep ampuh ternyata. Kami berangkat ba’da maghrib. Setelah berada di tempat dan memesan makanan, mulailah seperti biasa saya pura-pura nanya kabarnya. Haha, yes, just pretending ‘cause I have already known he is in crowded mind right now. Dengan sedikit ulak-ulik ringan, akhirnya Furqan berkisah. Intinya ya curhat tentang padatnya kegiatan ekstra-kampus dan kesulitan membangun komunikasi tim. Furqan cerita susahnya mengumpulkan anggota timnya padahal hanya 4 orang. He’s getting trouble too in communicating what in his mind to anyone karena orang lain pasti tidak akan mengerti meskipun dijelaskan (begitu pendapatnya). Dia menentang virtual meeting.

Malam ini, saya merasa benar-benar menjadi seorang kakak. Dicurhati, merasa dibutuhkan. How sweet that idea comes, haha. Yah, meskipun saya tidak memberi solusi yang solutif, tapi melihat wajah Furqan yang sudah sedikit ‘cling’, saya bahagia. Oh jadi begini ya rasanya menjadi seorang kakak. Kalau dulu hobi saya dan Furqan adalah berantem and quarrelling about many unimportant things, tapi sekarang hobi jalan bareng dan cerita-cerita yang kadang juga ngga penting sih, haha. Berhubung jarak umur kami yang tidak terlalu jauh dan wajah saya yang masih lucu (wkwk, my writing my rules) sering kali saya diceng-cengin teman-teman yang tidak mengetahui perihal saya punya adik kandung di IPB. Jadilah saya senyum jahil saja menanggapi mereka –seolah mengiyakan persepsi-persepsi yang mereka bangun sendiri.

Being a sister-brother is not just about being someone who is older or younger than, but also being someone you can keep your words to, you can trust than anyone else, place you can cry if you need to, and the one who can keep you safe together with your daddy and mommy. Saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang kakak dan saya juga bersyukur, Allah mengirimkan seorang adik.

 

Advertisements

Bicara Soal Jodoh

Barusan saya dikasih tau sebuah link yang terhubung ke laman ucapan pernikahan gitu. Ada kolom isian ucapan, juga ada stories about two, dan macem-macem lah. Ah lucu juga. Sekarang lagi trend begituan. Bahkan salah satu ide PKM yang saya pernah saya baca adalah wedding invitation via sosmed.

well, sebenernya saya gamau bahas teknologi undangannya sih. Lebih fokus ke ‘siapa’ yang ngundang. Orang keren ternyata. Satunya hafidz satunya hafidzah. Keduanya sama-sama calon dokter. Sekufu. Dan muda. Nah ini nih, nikah muda (saya mendefinisikan nikah muda bagi pasangan yang menikah di usia lebih muda daripada target umur saya menikah, target lho yaa bukan umur saya sekarang). Benar nyatanya janji Allah, laki-laki baik ya dapetnya perempuan baik. Laki-laki ahli puasa, insyaallah dapet yang setara juga (Yuk buka An-Nur ayat 26).

Nah pertanyaannya sekarang, kapan kita bisa mengukur dua orang tersebut berada di level yang setara? sama kufunya? Lalu bagaimana dengan perempuan ahli ibadah yang menikah dengan preman seperti di film-film itu lho (well, ini contoh ekstrem, kebanyakan nonton picisan, lol). Banyak dari kenalan saya yang sudah menemukan kepingan dirinya yang lain. Kalau diliat-liat awalnya mah ga mirip, kenapa lama kelamaan jadi semakin mirip? Kalo kata orang : jodoh.

Juri paling adil menentukan sekufu atau tidak tentu saja Allah swt yakan gaes? Jadi, kumaha ieu? Yakin aja sama janji Allah di An-Nur : 26, yang baik buat yang baik. Nah berhubung Allah-lah jurinya, maka banyak-banyak minta sama Allah. Semoga kita bisa jadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Mudah-mudah (calon) jodohnya ngikut 😀

Antara 2 Waktu

Aku selalu mengatakan pada orang-orang, “Jika kau ingin membaca tulisanku, pilihlah salah satu diantara dua waktu: ketika aku jatuh cinta atau sedang patah hatinya”. Saat itu aku seolah menjelma jadi pujangga, handal bermain kata-kata, merangkainya menjadi suatu gagasan yang mungkin layak untuk dibaca.

Segala sesuatu tentang rasa menurutku adalah topik paling sempurna untuk dieja. Tersenyum bahagia atau menangis sesegukan akan menjadi pelengkap tulisan. Entah kenapa, hati berkolerasi kuat dengan limbik kata. Seolah mudah saja membuat berbait-bait tulisan cinta. Dan aku menikmatinya.

Maka, jika kau temukan diantara tulisanku diksi tentang cinta, barangkali aku sedang mengalaminya (?) saat itulah, pegang aku kuat agar tidak goyah.

(hahaha, tulisan ini terlalu kenak-kanakkan, bukan?)

Utuh

Aku ingin kembali utuh. Menyempurnakan hati layaknya sebelum terjatuh. Menyatukan jiwa sebelum terlepas satu-satu entah kemana. Menambal lubang-lubang sebelum compang kemudian hilang. Membersihkan prasangka dari segala duga tak berdata. Membasuh bersih sukma dari kerak-kerak dosa yang setia.

Hilang

Aku dengar suara tapak

Riuh rendah luluh lantak

Tetiba semuanya retak

Gelap, tidak terelak

 

Hening

Tidak ada yang bergeming

Berderai beling-beling

Aku pusing

 

Kelam

Aku kira sudah malam

Yang tampak hanya hitam

Meski terkadang temaram

 

Bayang-bayang

Melayang-layang

 

Hilang

 

PN Azizah 12021017

Being a Weirdo

Hi Weirdo!

Well, are you getting mad when your friends call you “weirdo” ? Well, as an Indonesian, i don’t know the meaning of weirdo in its origin country or what’s the word weirdo using for. But, seeing from its denotative meaning, in bahasa we call it “aneh”. in my opinion, being a weirdo is pretty awesome actually.

A proverb says “Just be in one of these conditions to be remembered : Be the first, be the best, or be different”. Being different than others is called weirdo, isn’t it? if you can’t be the first one, you should be the best. But if you still can’t reach that position, may be you can try to be different, be uncommon, be unique, be a weirdo! Then the people will remember you. if you just do ‘so so’, it’s a little bit hard for anyone else to remember you.

So, for everyone called weirdo, you don’t need getting mad, bro! it’s a privilege instead mockery. Don’t be hurt ’cause not everyone can do what you do. You’re weirdo! you are pretty awesome, actually 🙂

Waktu, Jadilah Beku!

Bel berbunyi. Satu dua temanku berlari, yang lainnya masih santai menyeruput kopi. Atau sibuk menyalin tugas yang guru beri. Atau bergosip si itu dan si ini. Sementara aku sudah bersiap di posisi. Apatah lagi jika bukan menjalankan misi.

Mengindramu dari balik jendela kusam adalah canduku. Melirik malu-malu, kemudian menjelma jadi batu saat kau memutar hadap ke arahku. Teman-temanku menyoraki, kamu berhenti, wajahku memerah bak hati, tak bisa lari. Mereka tertawa, kamu dengan tatapan tanya, dan aku yang masih saja terpana. Ah, aku bisa gila!

Kamu tersenyum kemudian. Jangan tanya aku, hatiku sudah jumpalitan! pikiranku kacau tak karuan! Tertunduk, aku bersemu. Tanganku coba menggapai sesuatu, apa saja asal bisa jadi peredam malu. Aku ketahuan! Tertangkap basah! Tapi masih saja mencoba berkilah. Pura-pura sibuk padahal detak sudah tak tik tuk. Aah, aku malu. Waktu, tolong aku, jadilah beku!

PN Azizah 09022017